Pages

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Aug 16, 2011

Renungan Ramadhan Menyambut Kemerdekaan RI ke 66

Protected by Copyscape Plagiarism Detector
Alhamdulillah sudah 17 hari Saya, Anda dan Ummat Islam sedunia menunaikan ibadah Puasa. Dan Alhamdulillah sampai saat ini Saya belum pernah bolong menjalankan ibadah puasa . Puasa tahun ini adalah puasa yang istimewa bagi Ummat Muslim yang berada di Negara Tercinta Indonesia atau bagi semua Ummat Muslim yang mencintai Negara Republik Indonesia. Istimewa karena tepat 17 Ramadhan 1432 H adalah bertepatan pula dengan 17 Agustus 2011, dua moment penting bagi kita Ummat Muslim Indonesia. Dua moment Istimewa yang mungkin bagi sebagian orang bisa dikaitkan dengan unsur klenik ataupun hanya sekedar cuek menyaksikan berbagai kasus korupsi para pejabat Indonesia yang seolah terkesan tak pernah usai.

Dari pada pusing memikirkan kasus Gayus dan Nazarudin lebih baik kita kita telaah dan renungkan dua moment istimewa yang saat ini kita hadapi. Apa istimewanya kedua moment itu? Kita tahu bagi bangsa Indonesia 17 Agustus merupakan moment Kemerdekaan Republik Indonesia yang merupakan pembebasan dominasi manusia atas manusia lainnya. Sedangkan 17 Ramadhan adalah moment Pertama Kali Al Qur'an di turunkan sebagai tititk awal pembebasan manusia dari belenggu nafsu dan kebodohannya sendiri.

17 Ramadhan merupakan tanggal terjadinya peristiwa Nuzulul-Qur’an (turunnya Al-Qur’an) pertama kali kepada Nabi Muhamad SAW. Adapun Firman Alloh SWT yang pertama tersebut adalah perintah untuk Membaca  “Iqro’ bismi rabbik….” (bacalah! dengan atas nama Tuhanmu…”) demikian bunyi awal dari ayat Qur’an surat Al-Alaq itu. Mendapat Wahyu pertama yang di kirim melalui malaikat Jibril tersebut, Muhammad SAW bergetar ketakutan. Bagaimana tidak perintah yang datang dari sang Pencipta agar Muhammad SAW membaca, sementara beliau adalah seorang yang buta huruf. Beliau lantas bertanya pada Jibril "Apa yang harus kubaca ?" namun pertanyaan tersebut tidak mendapatkan jawaban secara spesifik yang artinya Membaca disini bisa diartikan membaca dalam arti luas bukan hanya sekedar arti harfiah. Membaca apapun asal atas nama Tuhan maka kita akan menemukan hikmah dan arti dari segala sesuatu.

Dalam konteks ini Al Qur'an menggunakan istilah "Rabb" dan bukan "Illah" untuk menyebut nama Tuhan. "Rabb" berarti Tuhan Sang Pencipta yang mengandung makna bahwa Tuhan adalah Pencipta segala sesuatu dan meninggalkan jejak akan bukti kuasa -Nya atau meninggalkan jejak sebagai manfaat bagi Ummat Manusia. "Illah" berarti Tuhan dalam pengertian sebagai Zat Maha Agung yang tak terbayangkan.

 “Iqro’ bismi rabbika…” dan bukannya “Iqro’ bismi illahika”. Sepenggal kalimat dari ayat pertama surat Al-Alaq ini mengandung pesan universal demi pembebasan manusia dari kebodohan. Menurut Quraisy-Syihab kata “Iqro’” berasal dari akar kata “Qoro’a” yang berarti “menghimpun” (kemudian lahir beragam makna seperti : menelaah, mendalami, meneliti, menigentifikasi, dan membaca). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ilmu dan Teknologi itu merupakan produk dari proses membaca atas nama Tuhan sebagai “Rabb” dan bukan sebagai “Ilah”. Sementara kesewenangan penguasa dan korupsi yang merajalela adalah produk dari proses membaca sebagai "Illah".

Jelaslah bahwa bersatunya moment Istimewa tersebut adalah sebagai pengingat bagi kita bahwa mungkin sebagian dari kita telah terseret ke proses “membaca” dengan atas nama Tuhan sebagai “Ilah” sehingga di antara kita saling tuding atas kesalahan dan hanya diri kita yang merasa paling benar, haus akan kekuasaan dan kesenangan sesaat tanpa mementingkan kemaslahatan Ummat manusia. Hal ini harus dihentikan dengan cara menata ulang cara kita “membaca” yang cenderung mengatas namakan Tuhan sebagai “Ilah” menjadi atas nama Tuhan sebagai “Rabb” demi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa, negara dan seluruh ummat manusia.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 66, Selamat menunaikan ibadah Puasa 1432H.
Sudahkah kita Membaca Atas nama Rabb... ?

11 comments:

  1. bener tu, aku merasa tadi malam tu adalah malam lailatul qadar..

    ReplyDelete
  2. wah klo lailatul qodar hanya Alloh yang tau..

    ReplyDelete
  3. jadi inget pertanyan pak guru dulu, apakah arti 'membaca' itu?
    sedangkan Rasulullah adalah seorang ummi
    muerdekaaa he he

    ReplyDelete
  4. Assalamu'alaikum..

    mantap artikelnya.MERDEKA!!!

    wassalamu'alaikum..

    ReplyDelete
  5. terasa disirami rasa nasionalisme ketika mengikuti ceremoni kemerdekaan.
    salam merdeka, kawan

    ReplyDelete
  6. Bacalah
    dengan menyebut nama Tuhanmu

    itulah kalimat pembuka pada tulisan skripsiku dulu
    jadi inget masa kuliah

    ReplyDelete
  7. bang atta sekarang pake gajah ya... he.. he.

    ReplyDelete

Terima kasih anda bersedia memberikan sedikit waktu anda untuk membaca tulisan saya. Silahkan komentar apa saja.
Komentar yang masuk setelah 2 bulan artikel ini ditulis akan dimoderasi ( karena banyaknya spam ).